Internasional

PM Abe Beri Lampu Hijau, Siap Bertemu dengan Kim Jong Un Tanpa Syarat Apapun

Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe bersedia untuk bertemu dengan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un untuk melakukan diskusi terbuka 'tanpa syarat apapun'. Seperti yang disampaikan Abe kepada surat kabar Sankei. "Saya berharap ia seorang pemimpin yang tahu apa yang terbaik bagi negaranya, dan bersedia menjadi pemimpin yang fleksibel dan membuat penilaian strategis," ujar Abe, dalam wawancara pada Rabu lalu.

Perlu diketahui, tawaran untuk melakukan pembicaraan tanpa syarat dengan Jepang yang merupakan salah satu sekutu terdekat Amerika Serikat (AS) tentunya dapat membuka jalan negosiasi lain untuk Kim. Setelah sebelumnya, pertemuan puncaknya dengan Presiden AS Donald Trump pada Februari lalu gagal mencapai kesepakatan. Dikutip dari laman Bloomberg, Jumat (3/5/2019), bulan lalu, Kim telah bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan meminta bantuannya dalam upaya menyelesaikan kebuntuan kesepakatan dengan AS.

Ia meminta Putin untuk menyampaikan pandangannya kepada Trump. Sedangkan bagi Shinzo Abe, pertemuan dengan Kim akan membantunya membawa Jepang kembali ke dalam diskusi terkait situasi panas di Semenanjung Korea, karena pihaknya mencari jaminan keselamatannya sendiri dari program senjata Korut. Ia menegaskan bahwa setiap diskusi harus didasarkan pada kerangka kerja 2002 yang diadopsi oleh Perdana Menteri Junichiro Koizumi dan ayah Kim, yakni mendiang Kim Jong Il.

Pada dasarnya, titik gesekan utama antara kedua negara itu diantaranya adalah tuntutan Jepang kepada Korut untuk mengembalikan belasan warganya yang diyakini telah diculik dan dibawa ke Korut pada akhir 1970 an dan awal 1980 an, dengan bantahan Korut yang menyebut diantara mereka tidak ada yang masih hidup. Abe mengatakan bahwa dirinya mengangkat topik pembicaraan itu selama 50 menit dalam perjalanan mobilnya bersama Trump untuk bermain golf di AS pada pekan lalu. Ia berharap Trump akan menemui keluarga mereka yang diculik, saat Presiden AS itu mengunjungi Jepang pada akhir bulan ini.

Untuk kali ini, Kim mungkin akan lebih terbuka dalam pertemuannya dengan Abe. Di sisi lain, meskipun Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperpanjang undangan kepada Kim hampir setahun yang lalu, namun Pemimpin Korut itu hanya menerimanya setelah pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) keduanya dengan Trump berakhir tanpa kesepakatan. Padahal persetujuan kesepakatan tersebut untuk meringankan sanksi Perserikatan Bangsa bangsa (PBB) yang selama ini telah mencekik perekonomian Korut.

Sejak saat itu, Korut pun telah mengeluhkan bahwa perantara antara dirinya dan Trump, yakni Sekretaris Negara AS Michael Pompeo hingga Pemerintah Korea Selatan (Korsel), tidak pernah menyampaikan pesannya. Sementara itu Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung Wha mengatakan pada Kamis kemarin, pemerintah Korsel tengah mempertimbangkan untuk mengirimkan delegasi khusus ke Korut. Hal itu karena Korut membutuhkan 'pendekatan komprehensif' dalam perundingan nuklir, seperti yang disampaikan Kang dalam konferensi pers yang disiarkan televisi lokal.

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here