Kesehatan

Menelusuri Tumbuhnya Akar Bajakah, Obat Tradisional Dayak Penyembuh Kanker yang Mendadak Populer

Akar Bajakah, tanaman tradisional masyarakat DayakKalimantan Tengah mendadak populer sejak dua siswa SMA di Palangkaraya menorehkan prestasinya. Akar bajakah sebagai obat kanker meraih medali emas di ajang kompetisi ilmiah di Seoul Kalteng. Tanaman yag baru diketahui tumbuh di Pulau Kalimantan terutama di Kalimantan Tengah ini khasiatnya ditemukan siswa SMA.

Sebanyak 2 siswi asal Kalimatan dikabarkan menemukan tumbuhan yang mampu menyembuhkan penyakit kanker. Berita ini sangat menggembirakan dalam dunia medis. Seperti diketahui, sampai saat inim belum ada obat yang mampu menyembuhkan kanker.

Penemuan ini tentu sangat berarti bagi kehidupan umat manusia. Penemuan dua siswi ini bahkan sudah diakui tingkat dunia. Adalah Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri oleh dua siswi SMAN 2 Palangkaraya penemu obat ampuh dari akar Bajakah ini hingga karyanya viral setelah meraih medali emas di satu ajang kompetisi sains di Soul Korea Selatan.

Tidak disangka, ternyata akar tanaman bajakah tunggal dengan ekstraknya dipakai penduduk pedalaman Kalimantan Tengah untuk pengobatan tradisional ternyata ampuh obati tumor dan kanker. Akar tanaman bajakah tunggal ini banyak ditemukan di hutan kalimantan, oleh warga lokal sejak lama dipakai untuk pengobatan untuk penyakit kanker dan tumor. Kini, penemuan dua siswa SMAN 2 Palangkaraya ini semakin populer sejak dikenalkan ke dunia internasional hingga meraih emas pada Lomba Karya Ilmiah Internasional di Seoul, Korea Selatan, pada 25 27 Juli 2019 lalu.

Guru pembimbing dua siswa SMAN 2 Palangkaraya, Helita saat ditanya seputar penghargaan tesebut, Senin (12/8/2019) mengungkapkan, sebagai pembimbing dia hanya mengarahkan anak didiknya untuk kreatif dalam membuat jarya ilmiah dengan melihat kearifan lokal. "Ada beberapa karya ilmiah yang kami ikutkan dalam lomba karya limiah di tingkat nasional dan internasional, teryata karya ilmiah ramuan tradisional akar tanaman bajakah itulah yang berhasil meraih medali emas ditingkat nasional hingga internasional," ujarnya. Kisah Akar Bajakah Sembuhkan Kanker Payudara Aysa Aurealya Maharani dan Anggina Rafitri, sendiri mengatakan, karya ilmiah yang diikutkan dalam lomba tersebut merupakan awalnya dari pengalaman rekannya bernama Yajid.

Yajid memakai ekstrak akar tanaman bajakah tunggal yang berhasil mengobati kanker payudara neneknya. Pengalaman Yajid kemudian menjadi inspirasi. Proses penelitian pun dimulai.

Ekstrak akar bajakah yang dibuat dengan cara ditumbuk ini diberikan pada tikus putih yang ada penyakit tumornya. "Kami amati selama 50 hari ternyata, pemberian ekstrak akar tanaman bajakah tunggal tersebut mampu melemahkan dan mengecilkan tumor pada tikus putih atau disebut kemencit tersebut, karena didalam akar bajalah tunggal terdapat kandungan yang bisa melemahkan penyakit kanker dan tumor ganas pada binatang dan manusia," ujar dua siswi ini. Belum Dilirik Pabrikan Sejak dipublikasikan media, karya ilmiah siswi SMAN 2 Palangkaraya ini banyak mendapat perhatian masyarakat.

Tidak sedikit yang penasaran ingin tahu akar tanaman bajakah tunggal tersebut? Maklum, kepiawaian dua siswi ini meraciknya hingga diakui dunia internasional dan populer, sehingga menjadi perbincangan secara nasional dan viral di media sosial. Guru pembimbing dua siswi tersebut, Helita mengatakan belum ada perusahaa farmasi yang berminat untuk bekerjasama dalam pembuatan obat pembunuh sel kanker dan tumor dengan tanaman obat tradisional warga dayak Kalteng tersebut.

Akar Bajakah penyembuh kanker dari Kalimantan, lokasi tumbuhnya dirahasiakan. Akar ini tumbuh di hutan lebat Kalimantan. Dimana lokasinya? Ternyata disembunyikan. Pihak sekolah takut jika berita ini menyebar luas, maka akan ada eksploitasi hutan secara besar besaran. Tim AIMAN dari Kompas TV pun melakukan penelusuran ke Kalimantan.

Begini catatan AIMAN yang disampaikan Aiman Witjaksono. Dua orang siswi SMA berhasil membawa karya ilmiahnya untuk dibuktikan di tingkat dunia. Mereka menemukan tumbuhan yang bisa menyembuhkan total penyakit pembunuh nomor satu di dunia, kanker!

Pertama kali menerima informasi ini, saya setengah percaya. Kenapa? Barangkali sama seperti yang ada di benak pembaca sekalian, apa iya??? Saya pun melakukan penelusuran awal. Informasi saya dapatkan dari Jurnalis KompasTV di Palangka Raya Kalimantan Tengah, Kurnia Tarigan.

Ternyata informasi yang saya terima betul adanya. Ada 2 siswi SMAN 2 Palangka Raya yang baru dua pekan lalu menerima penghargaan atas karya ilmiahnya menemukan tumbuhan penyembuh kanker, sekali lagi penyembuh, bukan meringankan, melainkan menghilangkan sel kanker yang ganas sekalipun. Sekolah dan guru menolak wawancara??

Namun, ada satu masalah yang menghalangi publikasi atas temuan ini. Pihak sekolah dan guru keberatan untuk diwawancara. Mereka khawatir akan ada eksploitasi besar besaran atas hutan di Kalimantan Tengah jika informasi ini tersebar.

Tim AIMAN berusaha meyakinkan bahwa publikasi atas temuan ini bertujuan untuk memberi manfaat bagi umat manusia. Syukurlah, kami berhasil meyakinkan pihak sekolah dan para guru. Saya bersama tim AIMAN segera bergegas menuju kota yang pernah disebut Bung Karno akan menjadi Ibu Kota RI tahun 60 an silam.

Setelah mendarat di kota ini, saya segera meluncur menuju ke SMA yang berada di tengah kota. Saya langsung menuju laboratorium sekolah untuk melihat bagaimana bentuk tumbuhan yang diganjar medali emas pada kompetisi Life Science di Seoul, Korea Selatan pada 25 Juli 2019 lalu. Saya melihat sepintas hanya batang atau mirip akar pohon biasa. Tak ada yang istimewa.

Tetapi berdasar hasil uji Laboratorium yang dilakukan di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, KalimantanSelatan, tumbuhan ini memiliki kandungan anti oksidan ribuan kali lipat dari yang jenis tumbuhan lain yang pernah ditemukan. ? Saya menanyakan apa nama tumbuhan ini? Bajakah! Begitu orang menyebut tumbuhan ini.

Penelusuran Masuk ke hutan Tumbuhan ini hanya hidup di hutan. Untuk mendapatkannya, kita harus masuk ke bagian dalam hutan. Tak puas di laboratorium, saya bergegas menuju ke hutan yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Palangka Raya.

Saya diantar oleh seorang guru dan juga 2 siswi penerima penghargaan. Sang Guru memberi catatan, saya tak boleh memberi tahu di mana hutan itu berada!?? Setelah melewati jalur Trans Kalimantan, saya dan tim AIMAN mulai masuk ke dalam hutan menggunakan mobil.

Beberapa menit perjalanan di dalam hutan, kami tiba di lokasi yang tidak bisa lagi dilalui mobil. Kami pun turun berjalan kaki selama beberapa menit dan tiba di sebuah tempat di tengah hutan di antara lahan gambut dengan airnya yang berwarna khas, coklat namun jernih, mirip warna minuman ringan ternama. Di sinilah saya pertama kali melihat dan menemukan pohon yang dikatakan langka ini.

Lagi lagi sepintas pohon ini seperti pohon biasa, sulit membedakannya dengan tanaman lain. Bedanya, pohon ini tumbuh dengan cara merambat meski memiliki batang yang kuat dan cukup besar. Ia bisa merambat pada ketinggian 5 meter lebih hingga ke puncak pohon lain yang dirambatinya.

Akarnya menghujam di dasar aliran air lahan gambut. Satu hal lagi yang saya dapatkan, tumbuhan ini hanya hidup di lokasi rimbun di mana sinar matahari tak banyak masuk, tertutup rimbunnya hutan. Bagaimanakah kisah awal penemuan khasiat tumbuhan ini?

Adalah Daldin warga suku dayak asli di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang menyampaikan pertama kali. Ia pula yang memberi nama tumbuhan ini. Kisahnya bermula pada sekitar tahun 1970 1980 an. Di kurun waktu itu, Ibunda Daldin menderita kanker payudara. Menurut dokter, levelnya sudah stadium 4.

Saat itulah ayah Daldin pergi ke hutan dan mencari tumbuhan ini untuk kemudian direbus dan airnya diberikan kepada sang istri. Kondisi ibu Daldin saat itu sangat memprihatinkan. Sejumlah bagian tubuhnya yang terkena kanker bahkan sudah mengeluarkan nanah.

Namun sepekan meminum rebusan tumbuhan itu, perubahan mulai tampak. Luka pada payudara sang ibu membaik. Sebulan setelahnya, luka tersebut sembuh total. Ibunda Daldin kini sehat walafiat. Dokter menyatakan bahwa Kanker yang sebelumnya menggerogoti sang ibu telah hilang sepenuhnya.

Program AIMAN yang tayang Senin 12/8/2019 pukul 8 malam di KompasTV, akan menayangkan wawancara lengkapnya.?? Bagaimanapun ini adalah sebuah awal. Kesembuhan pada penyakit apa pun adalah karunia Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui perantaraan makhluk Nya, bisa alam maupun manusia.

Oleh karenanya, tak berlebihan jika temuan 2 siswi SMA ini ditindaklanjuti untuk kemanfaatan umat manusia, tanpa harus merusak alam.?? Saya Aiman Witjaksono… ?

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here