var id = "35484dc984948dab40f4149110c1fec7ae80737d";
Bisnis

Faisal Basri Sebut Indonesia Peringkat 3 Negara Paling Menarik untuk Investor Asing

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri kembali menyoroti pidato 'Visi Indonesia' oleh Presiden Joko Widodo mengenai kinerja investasi di tanah air. Jokowi sempat mengatakan akan fokus menggenjot investasi, bahkan "menghajar" pihak pihak yang memperlambat investasi di Indonesia. Menurut Faisal, kinerja investasi sudah sangat baik.

Dia menyarankan Jokowi tidak memaksakan semua pelaku usaha terutama Badan Usaha Milik Negara untuk berinventasi tanpa perhitungan yang jelas. "Seolah olah investasi enggak nendang, bermasalah, ini sangat tidak benar. Saya heran kenapa pak Jokowi bilang itu. Investasi di kita baik baik saja tidak jelek. It is okay dibanding negara lain," ujarnya dalam acara diskusi di Jakarta, Rabu (14/8/2019). "Indonesia investasinya 32,3 persen (dari PDB). Kita above average, di era Jokowi naiknya sudah poll tak bisa dipaksa macam F1 kebakaran nanti mobilnya," ucap dia.

Faisal juga menilai investasi asing yang masuk ke Indonesia cukup menjanjikan. Dia membantah pernyataan Kepala BKPM Thomas Lembong bahwa Indonesia peringkat ketiga paling tertutup untuk investasi asing. Menurutnya, pada 2018 Indonesia masuk peringkat ke 16 di dunia sebagai penerima investasi asing, naik dua peringkat dari tahun sebelumnya.

"Investasi asing dibilang lambat, padahal nomor 3 paling atraktif di Asia, 48,1 persen investor mau tempatkan investasi di RI. 31 persen akan tetap di Indonesia tapi tak nambah investasi. Kita cuma kalah dari China dan India," jelas Faisal. "Dibandingkan ASEAN levelnya kita tertinggi soal jumlah investasi. Kita cuma kalah dari China. Indonesia keren. Jadi persoalannya bukan investasi, pak Jokowi," ujarnya. Faisal Basri menilai, permasalahan investasi di Indonesia yaitu output atau hasil yang dihasilkan tidak optimal.

Dengan begitu, lanjutnya, pendapatan yang diterima negara dari hasil investasi itu tidak setimpal. Dia menyarakan Jokowi fokus membuat investasi lebih efisien, sehingga bisa menurunkan rasio Incremental Capital Output Ratio (ICOR). Masalahnya adalah investasi yg banyak itu hasilnya sedikit. Jadi untuk nambah secangkir kopi produksi satu sachet gula butuh modal 6 unit, di Vietnam cuma 4. Jadi kita itu boros," ucap Faisal.

"Kalau pak Jokowi mau (ekonomi) tumbuh 7 persen turunkan saja ICOR jadi 4,6 persen. Kalau 6 persen turunkan ICOR jd 5,4 persen. Jadi gak bisa ujug ujug membangun," pungkasnya.

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here