Metropolitan

Anak Jualan Kopi Demi Kebutuhan Istri Jual Nasi Nasib Keluarga Eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husen

Nasib menyedihkan keluarga eks Kalapas Sukamiskin Wahid Husen setelah dipenjara, sang istri rela jual nasi uduk dan anak jualan kopi demi menyambung hidup. Kasus yang menimpa Kalapas Sukamiskin Wahid Husen hingga kini masih menjadi sorotan publik. Wahid Husen ditangkap KPK terkait dengan sejumlah izin keluar lapas sejumlah napi Sukamiskin.

Wahid Husen terbukti menerima suap berupa hadiah dari warga binaan Lapas Sukamiskin. Salah satunya yakni Fahmi Darmawansyah yang memberi satu unit mobil double cabin Mitsubishi Truton, sepasang sepatu boot, sepasang sendal merek Kenzo, tas merek Louis Vuitton dan uang Rp 39,5 juta secara bertahap. Wahid Husen sudah ditahan sejak April 2019 lalu. Setelah Wahid Husen ditahan, nasib keluarganya pun menjadi sorotan.

Diketahui, sebelum Wahid Husen dipenjara penghasilan keluarga berasal dari dirinya. Dian A hanya sebagai ibu rumah tangga yang memiliki tiga anak. Saat dilakukan penyidikan pada 2018 lalu, rekening milik Wahid Husen harus diblokir.

Padahal dalam rekening tersebut berisi keuangan keluarga. Karena tak bisa diakses, Dian A bersama ketiga anaknya kesulitan untuk memenuhi hidup sehari hari. Dian A pun rela berjualan nasi uduk yang dijajakan ke saudaranya juga.

Wanita 49 tahun itu memulai kegiatan memasaknya sejak dini hari. Selain jualan nasi uduk, Dian A juga menerima pesanan jahitan. "Sekarang saya kegiatan jualan nasi uduk Jakarta, kadang jual yoghurt, mengerjakan orderan menjahit," ujar Dian A.

Dalam sehari Dian A menjual 50 bungkus dimulai masak sejak pukul 03.00 WIB. "Jualan nasi sehari 50 bungkus, dijual Rp 20 ribu ke kerabat kerabat, saudara di kantor kantor teman begitu. Dijualnya ada yang antar pakai motor.

Sejak jam 03.00 pagi saya sudah masak," kata Dian saat ditemui di kediamannya, Jumat (18/10/2019). Selain itu, Dian A juga menyebutkan hingga kini ATM milik sang suami yang berisi uang untuk kehidupan keluarga masih diblokir. Padahal dalam putusan, hakim memerintahkan KPK untuk mengembalikan semua bukti Wahid Husen.

"Untuk bukti bukti memang sudah dikembalikan lagi. Yang disita itu kan ada dua kartu ATM dan asuransi. Tapi saat saya cek mesin ATM, rekeningnya masih diblokir, jadi enggak bisa ambil uang. Padahal di rekening itu murni uang selama bapak bekerja, uang gaji," ucap Dian A. Hingga akhirnya, Dian A harus mencairkan asuransi milik sang anak sejak 2014 lalu karena tak bisa melanjutkan pembayaran.

Namun, asuransi tersebut justru masuk dalam rekening yang hingga kini masih diblokir. "‎Yang disita itu kan ada dua kartu ATM dan asuransi anak anak sejak 2004. Saat bapak masih di KPK, kami sudah enggak ada uang, asuransi enggak sanggup bayar lalu kami cairkan.

Uangnya ditransfer ke rekening yang disita, saat saya cek ke ATM, enggak bisa diambil karena masih diblokir," ujar Dian A. Dian A dan Wahid Husen pun sudah mencoba mengirim surat permohonan ke KPK agar rekening bisa digunakan. "Sudah mengajukan surat tapi belum dibalas. Saya tanya tanya, katanya rekening belum bisa diblokir selama denda yang Rp 400 juta belum dibayar," ujar Dian.

Rupanya tak hanya Dian saja yang mencari nafkah. Anak Dian dan Wahid Husen yang duduk di bangku SMA bahkan sampai rela menjadi barista dan berjualan kopi. "Jualan kopi, dijualnya ke teman teman, kerabat saudara.

Dititip di saudaranya juga untuk dijual," ujar anak laki laki berusia sekitar 18 tahun itu.

About Author

Keberhasilan adalah kemampuan untuk melewati dan mengatasi dari satu kegagalan ke kegagalan berikutnya tanpa kehilangan semangat.

Comment here